WARISAN ISTRIKU (10)
(Aku Tak Tahu Istriku Banyak Warisan Saat Kutalak Tiga Dirinya)
POV DANU
Ibu menghentikan langkahnya lalu menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Oh ya? Memangnya untuk apa lagi kamu mau rujuk balik sama Laras? Sudah gila kamu! Rejeki nomplok Sonia mau sama kamu, malah kamu pengen balik sama istrimu! Siapa yang nggak bingung!" hardik ibu dengan nada keras.
"Iya, Nu, Bapak juga sudah setuju kamu nikah sama Sonia, jadi tolong dong kamu juga jangan banyak kelakuan lagi. Kalau kamu nikah sama Sonia, keluarga kita bakalan enak. Bapak nggak perlu kerja keras lagi buat nyari makan. Gimana sih kamu?" timpal Bapak pula. Begitu pun adikku, Imas yang langsung menyambar perkataan beliau.
"Bener, itu Mas! Imas juga nggak perlu susah kalau punya kakak kaya. Nggak perlu harus hemat makan segala seperti yang selama ini bapak ibu terapkan di rumah!"
"Stop! Stop! Dengarkan dulu ini! Ibu ... Bapak nggak tahu masalah sebenarnya, makanya dengarkan penjelasanku dulu ... Laras itu tidak seperti yang ibu dan bapak pikirkan. Kemarin mungkin dia menantu miskin, nggak punya apa-apa. Tapi sekarang beda, Bu ... Pak!
Bapak baca berita tidak, di daerah tempat tinggal orang tua Laras sekarang sedang dibangun kilang minyak besar. Dan perusahaan memberikan ganti rugi yang tidak sedikit pada warga masyarakat yang tanahnya terkena proyek pembangunan kilang minyak tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Pak ... Bu, nilainya sampai puluhan miliar!"
"Terus?"
"Orang tua Laras termasuk warga yang mendapat ganti rugi dalam jumlah besar tersebut, tidak tanggung-tanggung, Bu, sepuluh miliar rupiah!
Nah, Bapak dan Ibu Laras ini meminta aku dan Laras pulang untuk ngurusin uang itu, tapi sayang aku sudah keburu ngucapin talak tiga sama dia karena Sonia ngerayu aku, ngajak nikah dengan syarat mau menceraikan Laras.
Aku yang nggak tahu ya langsung aja nyeraikan Laras, soalnya Sonia janji bantu ibu dan bapak lima ratus ribu rupiah sebulan kalau kami jadi menikah.
Tapi .... kalau aku masih jadi suami Laras, tentu saja bukan cuma lima ratus ribu rupiah setiap bulan yang bisa kuberikan pada ibu dan bapak juga Imas, tapi juga rumah dan mobil mewah.
Sepuluh miliar itu bukan jumlah yang sedikit, Bu. Orang tua Laras cuma minta dicarikan tanah dan rumah baru untuk tempat tinggal mereka. Paling lima ratus juta rupiah juga sudah dapat itu, nah sisa sembilan miliar lima ratus juta rupiah kan bisa untuk aku dan Laras.
Nah, Laras pasti nggak akan bisa ngabisin uang itu sendirian, Bu, Pak. Dia juga nggak akan bisa menghitung dan menyimpan duit sebanyak itu sendirian. Makanya aku ngotot balikan lagi sama dia, biar kita semua bisa hidup senang dan aku bisa nyari istri baru lagi yang lebih cantik dari Laras dan Sonia, gitu, Bu ... Pak!" ujarku panjang dan lebar pada kedua orang tuaku yang hanya bisa menelan ludah saat aku telah selesai bicara.
Kentara sekali raut bapak dan ibu begitu pucat pasi saat diberitahu hal yang sebenarnya.
Begitu pun Imas yang langsung jatuh terduduk di atas tanah saat mendengar penjelasan dariku.
Gadis yang saat ini kuliah sementara tiga di sebuah universitas swasta itu itu bahkan sampai harus mengurut dada yang tiba-tiba terasa sesak saat mendengar alasanku ingin kembali pada Laras.
"Ya, Tuhan, Mas Danu! Ngomong kek dari tadi. Kita mana tahu cerita sebenarnya seperti ini. Kalau tahu mana mungkin tambang emas kayak Mbak Laras itu kita buang begitu saja. Ya, sudah, ayok Pak, Bu, Mas Danu kita balik lagi ke rumah Pak RT dan kita ajak balik Mbak Laras sekalian. Ayok," ajak Imas sambil menarik tanganku, bapak dan juga ibu, tapi ibu justru terlihat ragu-ragu.
"Tunggu dulu! Kayaknya nggak semudah itu kan ngajak Laras balikan? Buktinya kamu sudah ngotot rujuk tapi dia nggak mau. Bahkan kamu sampai dianiaya segala sama dia kan, Nu?
Ibu rasa karena sudah kaya makanya si Laras jadi belagu nggak mau diajak rujuk. Kalau pun kita balik lagi ke rumah Pak RT, kita juga yang bakalan malu, makin GR dan sombong dia. Makanya kita harus segera menyusun siasat kalau begini.
Si Laras besok kan mau pulang ke kampungnya di Jawa sana. Nah, gimana caranya kita bisa membuntuti dia dan ngawasin dia supaya jangan bebas begitu saja. Kalau duit ganti rugi dari perusahaan itu sudah benar-benar dia terima, baru kita cul1k dan bawa dia ke sini, gimana?" usul ibu dengan wajah penuh semangat.
Mendengar itu, Imas menimpali.
"Betul, Bu. Secara hukum Mbak Laras itu kan masih istri sah Mas Danu, jadi kalau dia kita bawa paksa ke rumah, nggak ada juga yang bakalan beraninmelaporkan. Nah, kalau sudah di rumah, lita kuras deh duitnya, lalu kita buang kalau kita sudah kaya. Bener nggak, Pak, Bu?"
"Bener kata kamu, Imas! Makanya mas ngotot tadi ngajak Laras pulang bareng kita. Tapi ibu dan bapak malah melarang. Gagal deh! Sekarang semua jadi rumit. Mas kudu ngawasin dan nguntit dia pulang ke Jawa dulu baru bisa kebagian hartanya.
Tapi masih mendingan sih daripada nggak dapat sama sekali. Mas juga rencana mau nuntut harta gono-gini kalau sewaktu-waktu dia ngajukan cerai di pengadilan nanti. Pokoknya mas nggak akan melepaskan dia begitu saja. Mas harus bisa dapatkan warisan yang Laras dapatkan dari kedua orang tuanya nanti!" sahutku dengan mata berbinar-binar, membayangkan uang miliaran rupiah yang berhasil kudapatkan dari Laras nanti.
Dengan uang itu aku bisa mendapatkan semua yang kuinginkan. Wanita dan kehidupan mewah yang selama ini hanya ada dalam angan-angan semata.
Dan aku yakin, dengan kecerdikan dan kelicikanku, aku pasti akan bisa membuat Laras tunduk dan takluk di bawah kakiku ini.
****
Lanjut?

0 Komentar