STATUS W A IPAR DAN MERTUAKU (6)

 STATUS W A IPAR DAN MERTUAKU (6)

Setelah pertengkaran dengan Mas Alvin dan ibu mertua, akhirnya aku pun pulang kembali ke rumah bersama Kayla.
Aku bersyukur, sepanjang perjalanan, putriku tak rewel, seolah tahu jika mamanya sedang ada masalah.
Usai membaringkan Kayla yang tak lama kemudian tertidur karena kecapekan, aku pun kemudian beranjak menuju ruang kerja Mas Alvin yang berada di lantai atas.
Dengan rasa ingin tahu penuh, aku pun mencoba membuka berkas berkas kerja Mas Alvin yang berada di atas meja, laci meja dan di dalam lemari pribadinya.
Selama ini sebenarnya aku cukup curiga pada aktivitas kerja Mas Alvin di kantor. Beberapa waktu yang lalu, aku pernah tak sengaja mendengar suamiku itu meminta salah satu anak buahnya yang selama ini selalu membantunya di kantor, untuk membuat laporan palsu mengenai harga harga barang yang diperlukan sehubungan dengan pembangunan kantor baru perusahaannya yang dia kelola.
Perusahaan tempat Mas Alvin bekerja memang sedang melakukan ekspansi untuk mengembangkan perusahaan dan oleh karena itu menugaskan Mas Alvin sebagai manager GA untuk mengelola pembangunan kantor baru perusahaan tersebut.
Akan tetapi Mas Alvin tampaknya tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh perusahaan. Kepercayaan tersebut tampaknya telah dia pergunakan untuk memperkaya dirinya sendiri.
Suamiku itu tampaknya telah me-mark up harga harga barang dan material yang diperlukan guna pembangunan kantor baru tersebut dengan nilai mark up yang tidak sedikit. Angkanya bisa saja mencapai tiga ratus hingga empat ratus juta rupiah. Sebuah angka yang tentunya tidak sedikit.
Itu sebabnya, aku yakin, jika aku bisa menemui pimpinan perusahaan di mana Mas Alvin bekerja sekarang ini dan bisa memberikan bukti bukti otentik serta akurat atas penyelewengan dana yang dia lakukan, aku pasti bisa membuat Mas Alvin dipecat dari perusahaan dengan tidak hormat, bahkan membuat dia masuk penjara.
Ya. Tadinya sebagai seorang istri yang baik tentu saja aku tak berani usil membongkar aib dan kedok kejahatannya tersebut meski aku tahu uang hasil dia berbuat curang itu bukanlah diperuntukkan untuk diriku melainkan untuk menyenangkan ibu, adik dan mungkin istri barunya itu yang tampaknya merupakan prioritas utama dalam hidupnya itu. Ibu mertua dan Lila hobi foya foya yang butuh dana tidak sedikit.
Namun, saat ini, setelah aku dikhianati dengan telak bahkan dihadapkan pada kenyataan kalau pernikahan kami tidaklah berarti di mata hukum dan undang-undang, maka aku tahu tak ada lagi gunanya menutupi borok dan keburukan Mas Alvin lagi.
Aku akan membongkar kedok kejahatannya itu supaya Mas Alvin sadar dari kesalahannya dan tak merasa di atas angin melulu karena tahu kalau dia telah berbuat curang, tapi perusahaan tak tahu dan hukum pun tak bisa menjangkaunya.
Dia harus disadarkan dari kekeliruannya tersebut!
Dengan tangan gemetar aku pun berusaha membuka laci meja kerja Mas Alvin yang berada di depanku itu dan kelihatannya terkunci rapat tersebut. Aku kemudian berusaha mencari anak kuncinya dan tersenyum lega saat akhirnya berhasil menemukan anak kunci tersebut yang berada di bawah tumpukan buku buku dan berhasil membukanya tanpa kesulitan yang berarti.
Benar saja, saat laci terbuka, mataku seketika disuguhkan tumpukan kwitansi, nota nota pembelian dan surat surat berharga lainnya yang kelihatannya asli dan bersifat rahasia tersebut.
Di bawah tumpukan nota nota tersebut aku juga menemukan coretan tangan Mas Alvin yang berusaha memanipulasi harga harga barang tersebut dan merekayasanya untuk dia laporkan ke perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban keuangan.
Ya..Tak salah lagi. Setelah aku mencoba membaca semua laporan yang Mas Alvin buat, aku menemukan banyak sekali bukti bukti kecurangannya. Banyak sekali perbedaan, ketimpangan dan kejanggalan antara laporan yang dia buat dan dia berikan pada pihak perusahaan dengan nota nota pembelian yang asli yang dia dapatkan dari pihak penyedia barang.
Melihat semua bukti tersebut, aku pun gegas mengambil ponselku dan memfoto semua bukti bukti tersebut.
Dengan bukti bukti ini, aku yakin Mas Alvin tak akan bisa berkutik lagi.
Dia pasti akan segera menemukan karmanya setelah bukti ini aku serahkan pada pihak perusahaan.
Ya. Siapa suruh berkhianat dan menorehkan luka di hati seorang istri yang selama ini telah tulus ikhlas mendampinginya dan mengorbankan semua untuk dirinya.
Perempuan di luar kelihatannya memang lemah. Tapi di dalamnya, sekali disakiti, maka dia akan kuat dan berani berbuat apa saja untuk membalas orang yang telah menyakiti hatinya. Tapi tentu saja dengan pembalasan yang elegan.

0 Komentar