MEMBALAS HINAAN SUAMI DAN MERTUA (16)

 MEMBALAS HINAAN SUAMI DAN MERTUA (16)

"Ndra, di luar ada yang nyariin kamu itu! Dari pengadilan agama katanya. Apa itu panggilan sidang ya, Ndra? Syukurlah kalau itu panggilan sidang. Sudah nggak sabar rasanya Mama pengen kamu cepat-cepat cerai dari Aira dan nikah lagi sama Selvi. Pengen cepet-cepet ganti mantu mama," ucap Bu Rahmi pada Indra yang sedang tiduran sambil ngobrol di telepon dengan Selvi.
Meski sudah beranak dua, tapi karena sedang dimabuk-mabuknya cinta, Indra memang seperti ABG alay yang tak bisa sekejap saja berpisah dari sang pujaan hati. Selalu saja menghubungi wanita itu tanpa kenal waktu.
"Dari pengadilan agama? Oh, pasti undangan panggilan sidang itu, Ma. Oke, Indra temui dulu ya," ujarnya.
"Ya, sana temui! Biar cepet kelar urusan dengan Aira dan bisa segera buka babak baru dengan Selvi kamu, Ndra!" ujar Bu Rahmi lagi sambil tertawa bahagia.
Indra pun ikut tertawa dan dengan gerakan tak sabar lelaki itu bangun dari tidurannya lalu memberi tahu Selvi kalau ada petugas pengadilan yang sedang mencarinya di depan dan bermaksud memutus hubungan telepon mereka karena hendak menemui petugas yang tengah menunggunya di teras itu.
Dari seberang telepon, Selvi pun mengiyakan sehingga Indra pun kemudian menutup sambungan telepon dan gegas ke depan rumah untuk menemui petugas tersebut.
Tak lama kemudian, ia pun kembali lagi menemui ibunya dengan selembar kertas di tangannya.
"Syukurlah, Ma. Ternyata benar panggilan sidang untuk besok pagi. Doakan ya, Ma supaya Aira nggak bisa datang sehingga proses perceraian kami bisa cepat selesai," ujar Indra pada Bu Rahmi.
Ibunya menganggukkan kepala lalu kembali tersenyum gembira.
"Iya. Semoga saja Aira nggak bisa datang. Biar cepet kelar sidangnya. Udah nggak sabar soalnya mama pengen cepet-cepet punya menantu baru, Ndra. Menantu konglomerat. Banyak duit dan royal. Ah ... udah nggak sabar mama pengen diajak jalan-jalan ke mana itu yang lagi viral? Ke Cappadocia?"
Indra menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Ke Cappadocia," jawab Indra cepat.
"Nah, iya ke Cappadocia. Pasti seru bisa liburan ke sana! Bisa pamer sama tetangga dan teman arisan mama kalau mama bisa liburan ke sana berkat menantu baru nanti," ujar Bu Rahmi dengan nada gembira.
Indra pun ikut tertawa gembira. "Pasti dong Ma, Selvi pasti ngajakin mama liburan ke mana aja mama mau. Orang banyak duit begitu. Pasti nggak akan perhitungan sama mertua," jawab Indra.
"Iya. Mama juga yakin begitu. Makanya Mama udah nggak sabar pengen kamu cepet-cepet nikah lagi, Ndra."
"Ya, udah. Terusin ngobrolnya sana. Mama mau ke depan dulu. Nunggu Aris sama Rudy, katanya mau ke sini. Sudah tanggal segini tapi tumben belum tran*fer uang bulanan juga. Apa sih maunya abang-abangmu itu? Apa si Maya dan Inggrid sudah mulai perhitungan jadi mereka nggak bisa ngasih uang mama lagi? Awas saja nanti! Mama coret jadi menantu kalau sampai nggak mau lagi ngasih mama uang lagi! Mama ganti sama menantu baru yang bisa mama andalkan!" ujar Bu Rahmi lagi.
Indra hanya menganggukkan kepalanya lalu setelah ibunya beranjak ke depan, ia pun kembali menghubungi Selvi dan melanjutkan obrolan mereka yang barusan tertunda tadi.
*****
"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Maya saat dilihatnya Rudy, suaminya sedang berganti pakaian.
Hari ini tanggal satu. Seperti biasanya dia akan pergi ke rumah ibunya untuk menyetor uang bulanan karena saldo di ATM-nya sudah menipis.
Sejak beberapa hari lalu, setelah mengaku kalau di kantornya, ia tak lagi mendapatkan job sampingan, Maya memang mulai perhitungan dan mulai meminta uang pada dirinya. Lama-lama isi ATM yang sedianya untuk persediaan memberi ibunya uang pun menjadi habis sedikit demi sedikit. Dan itu membuat Rudy mau tak mau mulai menjadi gerah pada istrinya.
Tak disangka Maya yang selama ini sangat bisa diharapkan bantuannya untuk membantu keuangan dirinya dan juga ibunya serta selalu bersikap patuh dan penurut padanya serta selalu menjadi menantu kebanggaan ibunya, sekarang mulai tak bisa diharapkan lagi bantuannya.
Jujur ia merasa kecewa dan mulai kehilangan respek dan rasa butuh pada istrinya itu.
"Mau ke rumah ibu!" jawab lelaki itu dengan nada sedikit meninggi dan acuh tak acuh.
Ia bukan tak percaya kalau bisa jadi Maya memang mulai kehilangan job di kantor sebagai akibat dia baru saja dipindahkan tugas ke tempat baru kemarin.
Hanya saja ia tak yakin kalau Maya benar-benar sudah seret kondisi keuangannya sehingga sekarang harus mulai meminta uang padanya. Jujur, ia tak suka itu.
Setelah bertahun-tahun ia bebas dari tanggung jawab menafkahi anak dan istri, sekarang tiba-tiba ia harus dituntut kewajiban untuk memenuhi hal itu. Tentu saja Rudy merasa tak siap dan enggan untuk melakukannya.
"Mas, mau ngasih mama uang lagi? Mas kan tahu, aku sekarang lagi nggak ada job bagus di kantor. Maklum aku orang baru di instansi sekarang. Jadi, Mas nggak bisa juga dong selalu ngasih mama uang terus sementara aku sendiri juga lagi butuh uang karna penghasilanku berkurang, Mas! Mas harus tahu, kita juga butuh makan. Sementara penghasilanku di kantor, sedang tidak memadai," keluh Maya melayangkan protes dengan nada tertahan.
Antara takut dan harus bicara jujur pada suaminya, membuat perempuan itu berusaha hati-hati dalam menyampaikan isi hatinya. Meski demikian, itu tak juga membuat Rudy merasa senang mendengarnya.
Alih-alih merasa senang karena Maya masih berusaha menjaga sikap dan nada suara padanya, Rudy malah merasa berang tak kepalang.
Baginya, Maya bekerja adalah demi membantunya mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka.
Tapi kalau untuk urusan rumah saja, ia masih harus direpotkan seperti yang terjadi dalam beberapa hari ini, tentu saja tak ada gunanya istrinya itu bekerja. Lebih baik Maya di rumah saja atau membantu pekerjaan rumah tangga di rumah ibunya karena semenjak istri adiknya, Indra, yakni Aira pergi dari rumah, ibunya itu memang mulai kelimpungan mengurusi pekerjaan rumah sehingga saat ini terpaksa menyewa ART yang dibayar harian untuk menghandle pekerjaan rumah di kediaman ibunya itu.
"Kalau penghasilan kamu tidak memadai ya usaha dong. Jangan pasrah aja! Cari dong job yang lain! Biasanya kamu kan kreatif, serba bisa! Kok sekarang lemah?"
"Kalau urusan Mas ngasih mama uang itu sebuah kewajiban yang nggak akan pernah bisa ditunda. Biar bagaimana pun, jatah bulanan buat mama nggak bisa kosong!"
"Anak laki-laki itu milik ibunya, May. Wajib menafkahi dan mencukupi kebutuhan hidup ibunya sampai kapan pun. Apa lagi ibu sudah janda! Lagi pula kalau bukan kami anak-anak laki-lakinya, mama mau minta siapa? Dahlia masih gadis, masih kuliah, belum punya pekerjaan. Nggak akan bisa dimintai uang!"
"Jadi kamu nggak usah halangi Mas ngasih uang ke ibu karena percuma. Mas nggak akan pernah mendengarkan, apalagi mengabulkan, atau kalau kamu nggak suka, Mas terpaksa akan ... ." Rudy menghentikan ucapannya dan tiba-tiba menggantung kalimatnya lalu melirik sekilas pada Maya yang juga tengah memicingkan mata ke arahnya.
"Terpaksa apa, Mas?" tanya wanita itu saat dilihatnya suaminya itu tak kunjung meneruskan ucapannya dan malahan hanya tersenyum tipis saja kepadanya saat melihat ia hanya diam menunggu suaminya itu mengatakan apa yang hendak dia katakan itu.
Indra tersenyum simpul lalu membuka mulutnya kembali.
" ... atau Mas terpaksa akan menceraikan kamu dan menikah lagi dengan perempuan yang lebih kaya seperti Indra!" ucap Rudy dengan suara keras dan sinis.

0 Komentar