MEMBALAS HINAAN SUAMI DAN MERTUA (15)
Keluar dari toko pakaian milik Selvi, Aira mengajak ke dua buah hatinya menyusuri deretan toko yang lain.
"Ma, kita ke situ aja yuk," tunjuk Dino ke sebuh toko yang terlihat ramai pembeli.
Aira pun menghentikan langkahnya sesaat, lalu mencoba memperhatikan suasana di dalam toko itu lebih dahulu. Ia takut kalau-kalau kejadian seperti tadi terulang kembali. Mendapatkan pelayan toko yang tidak ramah sama sekali dan sombong seperti pelayan di toko milik Selvi tadi. Bukan hanya pelayan saja, tetapi pemiliknya juga arogan tak kepalang. Kalau diingat-ingat, menyesal Aira tak mengecek dulu sebelum masuk ke toko Selvi tadi.
"Ayolah," jawab Aira akhirnya saat dilihatnya pelayan toko di sana ramah-tamah dalam melayani pembeli. Terbukti mereka dengan sabar dan tak lepas tersenyum, melayani pembeli yang sedang memilih pakaian.
"Halo, Adik-adik. Mau beli baju ya? Ayo masuk. Jangan sungkan-sungkan ...," sapa salah satu pelayan toko pada Dino dan Dini.
Aira tersenyum, begitu pun Dini dan Dino.
"Iya, Mbak. Kita mau lihat-lihat dulu, boleh?" Aira menjawab dengan balas bersikap ramah.
"Boleh dong, Mbak. Mari masuk. Silahkan dilihat-lihat dulu ya," jawab pelayan itu lagi.
Aira dan anak-anak pun kemudian masuk toko dan mulai memilih-milih pakaian.
Di tengah konsentrasinya memilih pakaian, tiba-tiba terdengar suara menyapa dari arah belakang Aira.
"Aira? Kamu Aira 'kan?" tanya suara itu.
Aira refleks membalikkan badannya dan terkejut saat mendapati orang yang barusan menyapanya itu ternyata teman lamanya saat sekolah dulu.
"Maya? Kamu Maya kan?" sahut Aira saat berhasil mengenali wanita cantik yang berdiri di depannya itu.
Perempuan itu menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku Maya. Apa kabar? Sudah lama ya kita nggak ketemu?" jawab perempuan yang merupakan teman lama Aira saat masih duduk di bangku SMA itu.
"Iya. Dua belas tahunan sudah kita nggak ketemu ya. Kabarku baik. Kamu sendiri gimana? Oh ya, kamu belanja juga?" tanya Aira lagi.
Maya menggelengkan kepalanya.
"Bukan, Ra. Aku di sini pemilik toko ini. Kamu jarang belanja ke pertokoan ini ya. Kok baru kali ini aku lihat kamu sama anak-anak kamu ke sini?" jawab Maya lagi.
Aira pun menganggukkan kepalanya. Perempuan itu tersenyum getir. Teringat selama menikah dan menjadi istri Indra, ia memang tak pernah diperbolehkan ke luar rumah oleh mertuanya, apalagi untuk belanja kebutuhan pribadinya dan anak-anaknya karena selalu tak diberi dan tak boleh pegang uang.
Kalau pun ia butuh baju baru untuk dirinya dan anak-anaknya, paling-paling Dahlialah yang akan membelikannya ke pasar kaki lima sebab baik Indra maupun mama mertuanya tak akan memberikan kesempatan padanya untuk belanja pakaian sendiri.
Semua pengeluaran harus dikontrol dengan sebaik-baiknya oleh mertuanya itu. Beli apapun harus dengan anggaran seminim-minimnya.
Tak jarang karena budget yang di bawah standar, baju yang baru dibeli Dahlia pun, baru sekali dipakai sudah robek di bagian pisak atau pun ketiaknya sehingga terpaksa harus ia jahit ulang supaya bisa dipakai lagi.
Demi mengingat itu semua, Aira pun tersenyum sedih.
"Iya, May. Aku memang jarang keluar rumah.
Maklum banyak kerjaan di rumah setelah menikah. Oh ya, kamu sendiri sudah lama ya buka toko di sini? Kamu hebat ya, May, bisa punya toko sebesar ini," ujar Aira lagi. Memuji temannya itu dengan tulus.
Maya tersenyum lebar. "Ah, hebat apanya. Biasa aja lagi. Iya, aku sudah hampir lima tahun buka toko di sini, Ra. Alhamdulillah sudah punya tiga cabang. Mau nambah lagi, tapi nanti dululah. Takut nggak tercover."
"Wah, keren kamu. Tiga cabang. Pengusaha toko pakaian beneran dong kamu namanya. Oh ya, ngomong-ngomong kamu kenal dong sama yang namanya Selvi, yang punya toko di ujung sana itu?" tanya Aira seketika teringat pada Selvi dan iseng bertanya pada Maya soal perempuan itu. Mana tahu Maya kenal dan tahu karakter perempuan itu sebenarnya. Sekedar ingin tahu saja sih, niat Aira dalam hati.
Mendengar pertanyaannya, Maya menganggukkan kepalanya.
"Selvi? Kenal dong. Di sini nggak ada yang nggak kenal sama dia soalnya hehehe. Ngomong-ngomong kok kamu bisa kenal sama dia? Kalian temenan ya?" tanya Maya dengan ekspresi terkejut membayang di matanya.
Aira menggelengkan kepalanya. "Aku kenal sih. Tapi bukan berteman," jawabnya.
"Oh, aku pikir kalian temenan. Kaget aja sih kalau kalian berteman," jawab Maya lagi.
"Lho, kenapa emangnya, May?" Aira memicingkan matanya. Merasa heran.
"Nggak ... Cuma dia suka marah-marah aja kalau ada pelanggan yang nggak jadi belanja di tokonya terus pindah belanja ke toko lain. Jadi, terkenal lah dia di kompleks pertokoan sini. Banyak sabar aja deh kalau dia sudah emosi-emosi gitu," jawab Maya lagi.
"Emosi-emosi gimana?" Aira semakin tertarik ingin tahu soal Selvi lebih banyak. Ternyata benar dugaannya. Selvi perempuan yang punya masalah dengan kepribadiannya.
Pantas saja kemarin dengan penuh percaya diri perempuan itu datang ke rumah mama mertuanya lalu mengajaknya berkenalan dan barusan dia juga mendapat makian dari perempuan itu saat hendak belanja di tokonya. Ternyata memang ada yang salah dengan perilakunya, batin Aira.
"Ya, marah-marah nggak jelaslah sama pemilik toko yang lain. Katanya ngambil rejeki orang." Maya tertawa
"Oh gitu." Aira manggut-manggut.
"Iya. Oh ya, ngomong-ngomong, kamu sudah lama nikah, Ra? Dapat orang mana?" tanya Maya lagi.
Aira mengangguk. "Sudah dua belas tahun aku menikah, May. Dapat orang sini. Cuma sekarang ini aku lagi gonjang-ganjing sama dia, May," jawab Aira jujur apa adanya.
Perceraiannya dengan Indra memang sudah dia anggap bukan beban lagi, bukan aib lagi. Jadi, tak ada lagi yang perlu ia sesali dan tutupi lagi. Toh cepat atau lambat orang juga akan tahu kalau Indra bukan lagi suaminya. Nasib baik dan buruk datangnya dari Yang Maha Kuasa. Aira tak hendak menyesali atau pun protes terhadap ketentuan-Nya.
"Gonjang-ganjing gimana maksudnya, Ra? Apa kalian ... berpisah?" tanya Maya lagi dengan nada seolah tak percaya.
Aira mengangguk pelan. Namun, sebelum menjawab pertanyaan temannya itu lebih lanjut, ia berbisik pada dua buah hatinya untuk memilih pakaian yang disuka, kemudian barulah ia melanjutkan kembali percakapannya dengan Maya.
"Iya, May. Nggak lama lagi kami akan bercerai. Suamiku sudah mengajukan permohonan ikrar talak ke pengadilan agama. Dia hendak menceraikan aku dan menikah lagi dengan ... Selvi, May. Makanya aku tahu sama dia dan ingin tahu seperti apa dia sebenarnya. Ternyata seperti yang kamu ceritakan ini," jawab Aira akhirnya.
Entah apa yang menggerakkan ia untuk bercerita pada teman lamanya itu soal masalahnya walaupun mereka baru bertemu hari ini setelah lebih dari dua belas tahun tidak bertemu.
Tapi ia memang merasa lega dan plong karena beban di hati sedikit terobati saat ia menceritakan persoalan hidupnya itu pada teman lamanya itu.
"Apa? Astaghfirullah ... jadi suami kamu hendak menceraikan kamu dan menikah lagi sama Selvi? Nggak salah tuh? Mau aja jadi korban perempuan itu? Sama seperti temenku, Harry, suami kedua Selvi. Awalnya dia punya toko di sini. Itu loh, toko yang dia kelola sekarang. Selvi janda, terus nikah sama Harry. Waktu itu Harry juga punya istri. Tapi dia mungkin sama seperti suami kamu, udah gelap mata sama Selvi sampai akhirnya nekad menceraikan istrinya demi bisa menikahi Selvi."
"Akhirnya, mereka menikah. Setelah menikah, Selvi mengelola toko milik Harry, sementara Harry mengelola toko perhiasan milik keluarga Selvi. Tapi nggak lama kemudian Harry ditangkap polisi. Katanya dia menjual perhiasan palsu ke pembeli. Harry mengaku nggak tahu menahu karena dia cuma mengelola aja, tapi polisi nggak percaya karena semua transaksi penjualan atas nama dia. Akhirnya dia di penjara. Sampe sekarang belum keluar karena banyak sekali korbannya, Ra."
"Aku khawatir suami kamu juga bakalan mengalami nasib yang sama. Karena kurasa Selvi dan keluarganya memang sengaja menjual barang-barang palsu karena pasti modalnya nggak besar, Ra. Dan mereka sengaja menumbalkan laki-laki yang jadi suami Selvi untuk tameng kalau ketahuan polisi."
"Tapi ini rahasia aja ya, Ra.. Aku berani cerita karena mendengar suami kamu yang bakalan menikah lagi sama dia, makanya aku mau cerita. Siapa tahu kamu masih mau mempertahankan rumah tangga kalian, kamu bisa cerita ke dia, biar suamimu nggak jadi menikah lagi dan balikan lagi sama kamu, Ra."
"Kasihan kalau sampai menikah sama Selvi dan jadi korbannya. Menderita dalam penjara seperti Harry. Hmm, mereka memang hidup kaya sih, tapi dengan jalan menipu orang. Kasihan suami kamu nanti," ucap Maya lagi.
Namun, mendengar perkataan teman lamanya itu, Aira justru menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar.
"Biar ajalah, May, Mas Indra dan Selvi menikah lagi. Itu sudah urusannya. Suamiku sudah memilih Selvi, jadi aku nggak akan mengemis cintanya lagi. Lagipula Mas Indra juga bukan suami yang baik, jadi aku malah bersyukur dia bersedia menceraikan aku seperti ini. Perkara dia mau menikah lagi sama Selvi, mungkin itu sudah nasib dia. Aku malah bersyukur kalau kejadiannya memang seperti itu. Jadi biar Mas Indra sadar, kalau orang jahat dan zalim itu pasti akan mendapatkan juga balasannya, May."
"Makasih ya informasinya. Aku pulang dulu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Oke?" ujar Aira lagi. Maya pun mengangguk, mengiyakan.
Setelah menghitung total belanjaan dan saling bertukar nomor telepon, Aira pun keluar dari toko Maya dan pulang kembali ke penginapan.

0 Komentar